Tampilkan postingan dengan label miscellaneous. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miscellaneous. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

Green Green Grass at Home





Remember, the grass may seem greener on the other side, but ours, ours might be thicker. There's always something to be grateful about. 



Rabu, 12 Juli 2017

MACARIO – WRAP UP PARTY HS


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

What a happy day ketika sampai rumah lalu sadar bahwa semua kerjaan dan project udah pada kelar. Yeay!

Jadi setelah acara Pengajian Akbar kemaren, dua bulan kemudian kita mengadakan Wrap Up Party a.k.a pembubaran panitia. Seru, tapi juga sedih. Seru gegara kita bisa ngumpul-ngumpul lagi penuh rasa syukur dan terima kasih. Sedihnya karena ya kita bakal jarang ketemu karna project udah kelar. Hiks.

It’s okay. Toh kalau jodoh juga ntar bakal ketemu lagi, ya kan!
Well, acara wrap up party nya rame, hampir semua anggota dateng. Dimulai dengan acara... saling menunggu. Haha, biasa ya bu, orang indo kebanyakan ngaret ih. Terus pas udah ngumpul semua, cuss deh kita order our favorite menu.

Oiya, btw, acara wrap up party kita adain di Macario Cafe & Bistro yang terletak di Jalan Mayor Jendral Sutoyo no.7 Pekunden (daerah Kampung Kali) Semarang. Kita pilih Macario karna selain makanannya enak, tempatnya juga lucu buat foto-foto, hihi (teteup).

Setelah order, kita memulai acara dengan salam lalu sambutan gitu, hehe. Dilanjut dengan ucapan terima kasih karna selama kurang lebih 4 bulan kita udah kerja sama bareng untuk merealisasikan project Pengajian Akbar Milad Hijabers Semarang 2017. Alhamdulillah.

Finally yang ditunggu-tunggu pun tiba.


Taraaa.. Ini dia makanan yang aku pesan "Macario Chicken Grill". Ini adalah chicken breast grilled dengan macario saus barbecue, ditambah topping smoked beef plus mozarella cheese. Rasanya MashaAllah... I couldn't ask for more. Mantap. Perpaduan antara chicken breast, smoked beef and mozarellanya langsung terasa maknyus empuk lumer sekali gigit. Ditambah saus barbecue macario yang ajib, mulut ini terasa seperti syurga. Ahahaha lebay. 

Ini dia penampakannya dari dekat

Temen aku aja sampe acungin jempol haha


Setelah kenyang makan, lanjut ya kita foto-foto buat kenang-kenangan. Huhu. Karna kapan lagi ya kita bisa ngumpul dan makan siang kayak gini. Here are the photos.

Lucu kan ya tempatnya :D







Alhamdulillah...
Selesai sudah acara wrap up party kita. Meskipun agak sedih karna kita bakal jarang ketemu, tapi tetep aku berterima kasih banget sama cewek-cewek rempong yang ada di foto atas ini, karna tanpa bantuan mereka project Pengajian Akbar nggak akan terlaksana dengan baik dan lancar hehe.

Especially thank you Allah SWT yang telah mengijinkan kami untuk melalui semuanya dengan baik.

See you on another project, cinta!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Xoxo,
Lulu.




Selasa, 24 Mei 2016

Relationship


When our best friend's relationship did not work well, we will be like :( :( :(

The absence of direct communication is probably the main reason why long distance relationship rarely works. I believe that presence matters, a lot. Distance is not about time and space, because two people live together could have the longest distance. In the end, your heart beats the presence.

And you know, having a long-term relationship sounds good, but this long-term relationship needs kind of solution in which you do repairing when some parts of it do not work well, instead of changing to new ones.

Whether something or someone, it has the same pattern; we repair the broken part, not change a whole thing to a new one.

Good luck!
Have a long last relationship, everyone!


Rabu, 16 Desember 2015

Doodling is fun


Pernah denger kata "doodle" atau "doodling" ?
Itu lho gaya menggambar dengan mencorat-coret kertas yang gambarnya biasanya abstract, ada yang bermakna ada juga yang tidak bermakna. Seringnya sih menggambarnya asal-asalan tapi selalu punya bentuk yang unik dan menarik.

Nah, minggu lalu aku nemunin buku gambar yang masih tuebel dan seperangkat alat gambar punya adek yang udah lama nggak kepake. Adekku bisa gambar, tapi gara-gara sibuk jadi terabaikan deh tuh hobinya, skill-nya jadi nggak diasah lagi.
Iseng-iseng aja aku mulai nge-doodle, gara-gara doodle art ini lagi hipe banget. Jadi penasaran pengen nyoba kira-kira bagus atau enggak hasilnya.

Kalau aku lihat ditutorialnya, mereka pada cepet-cepet banget ih gambarnya. Pada jago tapi bikin pusing, hehe. Setelah lihat beberapa tutorial di google, akhirnya ku putuskan untuk menggambar.

This is  my very first doodle. First try juga buatnya. Waktu itu buat nyemangatin temen yang mau ujian.


Lama-lama jadi ketagihan yo, gara-gara hasilnya lucu banget. Pengen nyoba, tapi doodle apa ya? Akhirnya doodling anak temen yang umurnya menginjak 7 bulan. hehe.



Itungannya masih kasar sih ya, tapi aku ndak akan menyerah haha. Pas temen aku mau ulang tahun, aku bikin doodle art buat ngucapin ke dia. Alhamdulillah ya dia suka. 



Terus ini lagi doodling nama temen, karena dia request. Tapi mood swing banget, sampe sekarang belum selese, ditambah sibuk terus nggak sempet akhirnya jadi males. Astaghfirullah. Jangan ditiru ya teman-teman. Semoga bisa semangat doodling lagi ya, Lu!

Aamiin Ya Rabb!
Semangat!


Sabtu, 12 September 2015

We Broke UP


"Haaah? Putus? Seriusan kalian putus?"
"Iya. Putus for something better."
"Hhhh, nggak nyangka ih! Laki-laki emang bener ya! Bikin sakit doang bisanya. Something better apa'an. Cih!"
"Udah... I'm totally okay kok. Kaget awalnya doang, sekarang aku uda paham..."
"Paham? Maksudnya...?"

Airin, salah satu sahabatku sepertinya sudah jenuh dengan tingkah polah laki-laki yang sering menyakiti wanita. Of course, she did! Dia adalah salah satu wanita yang menjadi saksi bagaimana beberapa laki-laki bertingkah laku seenaknya dan membuat sakit hati wanitanya. Dia yang lebih sering marah ketika ada wanita yang diterlantarkan oleh lelakinya. Dia, a good listener dan a problem solver minded banget, itu yang bikin kita-kita nyaman ada di dekatnya dan cerita apa aja. 'Aku sih mending stay single aja deh ya, daripada nantinya sering tersakiti. Sudah cukup airmataku yang ikut mengalir gara-gara kalian.' ulasnya. Haha, dasar Airin.

Dan yeah, she's Airin, the most shocked girl bout why me and Kahfi broke up our ten years relationship. But, seriously, we broke up for good. Kahfi adalah seorang laki-laki baik yang aku pacari kurang lebih 10 tahun ini. Sebulan setelah peringatan 10 tahun hubungan kita, dia memutuskan untuk mengakhirinya. For the first time I heard the sentence "Let's broke up" from him, and I'm just like... yaudah mau gimana lagi, aku bisa apa. Sudah setahun ini, setelah Ramadhan tahun lalu, Kahfi dapet hidayah dari Tuhan. Dia jadi mempelajari agamanya lebih dalam, dan lebih dekat denganNya. He did experience all that all the things got easier when he's closer to God. It's good awalnya, tapi tidak untuk hubunganku dengan Kahfi.

Selama setahun ini, sikap Kahfi sudah berubah, total. Karena dia (sudah) sangat menjaga wudhunya, secara otomatis kita sudah tidak bersentuhan lagi. Berjabat tangan pun tidak. Ouch, it hurt me a lot at the beginning. Aku belum sepenuhnya mengerti. Dan, yang paling parah, dia mulai banyak mengkritik. Cerewet (he used to be a cool guy). Mulai dari sholatku (ini bagus). Dia sangat sangat menganjurkanku untuk sholat tidak hanya 5 waktu tapi juga tepat waktu. Mungkin karena setan dalam diriku ini banyak, jadi aku justru sedikit terganggu dan terkekang. Dia juga sudah mulai menggunakan ayat Qur'an dan Hadist ketika berbicara. Apapun topik yang sedang kita bicarakan, pasti satu atau dua ayat Qur'an. It drive me crazy, karena jelas aku kalah telak.

Tentang makan, dia sudah mulai menasehati tentang cara makanku. Cara makan yang baik adalah dengan cara berdoa terlebih dahulu, lalu memakan makanan dengan penuh syukur dan nikmat. Bagaimana nasi dan sayur mayur ini berasal, bagaimana mereka diolah, kita harus bersyukur karena kita bisa mendapatkannya dengan lebih mudah (sekarang). Dan, makan itu baiknya tidak disambi dengan melakukan hal lain seperti mainan gadge, berbicara, etc. Kalau makan ya makan, setelah selesei makan baru mainan gadget atau ngobrol. Itu semua dilakukan agar tidak mengurangi rasa syukur kita pada makanan. OH MY, IT'S HARD!

Next, hanging out with friends often, laughing out loud, sedikit demi sedikit harus aku kurangi jika itu hanya akan menambah pundi-pundi dosaku. Kahfi sangat paham bagaimana aku kalau sudah ngumpul sama temen-temen. Ya ngomongin oranglah, sholatnya molorlah, atau tertawa terbahak-bahak. Untuk apa jalan-jalan ke Mall kalau sholatnya jadi telat. Untuk apa piknik jauh-jauh kalau sampe lupa sholat, etc etc. Untuk semua kegiatan yang akan ku lakukan, harus dipikirkan segi baik dan buruknya. Kalau banyak mendatangkan kebaikan, lanjutkan. Kalau banyak buruknya, semua pilihan ditanganmu, jelas Kahfi. Hmmm, I'm about to cry. Karena semua itu benar.

Belum lagi tentang membaca Al-Qur'an. Dia menyarankanku untuk rutin membaca Al-Qur'an (beserta artinya juga mengamalkannya), karena Al-Qur'an nanti yang akan menolongku saat di akhirat kelak (selain amal ibadah dan doa-doa). Dan tentang memakai pakaian yang tidak ketat, jangan minum sambil berdiri, menjaga wudhu, etc, etc. Ouch, semua itu sungguh membuatku kesal karena semua yang dikatakannya itu benar, dan aku belum sampai pada level itu. It needs process, cuz those things are truly not easy. My lips kept sealed. Aku enggak protes, aku coba untuk mengerti dia, dia, dia, dan dia. Because I love him, and I think I need to change the way I love him. It isn't asking "udah makan belum?" "lagi dimana, sama siapa, lagi ngapain?" anymore, but it has to be fulfilling whatever he wants me to do.

Why?

Sehari setelah Kahfi ngomong kalau kita berdua udah nggak pacaran, aku memikirkan semuanya. Merenungkan semuanya. Apakah ini benar-benar terbaik untuk kita? Apakah semua ini untuk kebahagiaan kita berdua?

Aku selalu berfikir bahwa aku akan memenuhi semua permintaan dan kata-kata Kahfi karena aku ingin dia senang, bahagia, dan bangga that I am his girl. But then, semula yang aku pikirkan hanya untuk Kahfi, Kahfi lagi, dan Kahfi terus, sekarang semuanya berbalik. Kahfi melakukan itu semua semata hanya untuk aku, aku, dan kebaikanku. Dia menggiringku menjadi wanita yang lebih baik agar kelak kita bisa mencapai kebahagiaan yang hakiki. Dia mengajakku untuk lebih dekat dengan Tuhan, agar hidupku berjalan lebih mudah. Semuanya hanya untukku, dan tentu saja melalui campur tanganNya.

Just because he broke you up doesn't mean he didn't love you.
Just because he broke you up doesn't mean he will stop caring you.
Just because he broke you up doesn't mean you are allowed to meet another guy.
Just because he broke you up doesn't mean the world is over.
Setidaknya ini berlaku untukku dan Kahfi...

Setelah dua bulan kita broke up, Kahfi justru semakin care. Semakin sering membawakanku kue, semakin ingin tau kegiatanku apa aja, semakin support semua kegiatan-kegiatan baik yang aku lakukan. Eventho I can't hug him anymore or hold his hands, it doesn't matter. It's for our goodness.We broke UP to make our God Almighty UP there happy. Still, we keep setting UP our brighter future (together). The goal is only one, Jannah. Meeting in Jannah together with all family and friends is all the matter.

Kahfi, I don't know what to say but thank you very much. Thank you for leading me to be a better muslimah. I promise I'll do my best. You know, it needs process. But no matter how little, process is still a process, I just need to keep it UP!

Yang terpenting sekarang adalah aku udah nggak perlu drama jelly jelly jealous lagi. Sama aku aja dia udah nggak berjabat tangan, apalagi sama wanita lain. We didn't break UP, but we make the good things UP!

Ya kurang lebihnya aku sama Kahfi begitu, rin...

Rin...

AIRIIIIINNNNNNNNN.... !!! KAMU TIDUUUURRR????!!!
IIIIHHHH KESEEEEELLL....


ZZzzzzZZzzzzzZZZZZzzzzz.....





Jumat, 14 Agustus 2015

Manjadi Single


Setelah menjadi single, aku melihat semua orang jatuh cinta.

Aku, dengan jelas merasakan cinta. Perasaan bahagia saat jatuh cinta.

Saat kau memandang seseorang. Saat kau melihat bayanganmu sendiri di matanya. 

Saat kau kan mati-matian lakukan apa saja hanya untuk membuatnya bahagia.

Selalu ingin merasakan bahagia bersamanya. Selalu ingin melewati kesedihan berdua.

Saat tak saling bicara karena masalah kecil, dan menangis haru ketika berbaikan berbaikan.

Saat seseorang dengan sigap menggunakan lengan jaketnya, mengeringkan jok motor yang basah karena hujan, untukmu.

Saat seseorang menjadi sumber jawaban atas semua pertanyaan tak masuk akalmu

Saat kau menjadi alasan mengapa dia tetap tertawa ketika cobaan sedang ramai menghinggapi.

Itu, bukan peranku... untuk beberapa saat.

Sekarang, ini pertama kalinya bagiku untuk mengosongkan ruang yang ada di hati.



Rabu, 04 Februari 2015

Bagaimana


Bagaimana jika pelukmu tak lagi menenangkanku?

Bagaimana jika hadirmu tak lagi kucandu?

Bagaimana jika aku sudah lelah menunggumu?

Bagaimana jika aku menyerah untuk memperjuangkanmu?

Bagaimana jika waktu mengikis rinduku padamu?

Bagaimana jika aku berhenti mengharap hadirmu?

Bagaimana jika hatiku tak lagi memilikimu?

Bagaimana jika aku tak lagi memperdulikanmu?

Bagaimana jika hatiku tak lagi untukmu?

Bagaimana?



Kamis, 22 Januari 2015

Rumah

Saya berdoa setiap malam, semoga kamu dipertemukan segera dengan Rumahmu. Tempat kamu bisa menjadi dirimu sendiri, apa adanya, dan masih tetap dicintai.
Tempat kamu disambut hangat, tiap kali kau muncul di ambang pintu. Tempat kamu selalu pergi setelah mendengar kata ‘cepat pulang’.
Tempat kamu menemukan keyakinanmu, keseimbanganmu, dan keteguhanmu. Tempatmu berlindung, tidak hanya dari panas dan hujan, tapi juga dari basa-basi dan kepura-puraan. Tempatmu bisa berbagi senyuman sekaligus tangisan, tanpa kamu perlu dituduh pencari perhatian.
Tempat kamu memejamkan mata tanpa ketakutan akan bahaya. Tempat kamu terbangun dengan senyuman yang sama lebar dengan semalam.Tempat dimana segala jalanmu berujung.
Tempat kamu selalu kembali dan kembali tidak peduli sejauh apapun kamu pergi. Tempat kamu hidup berbahagia, selama-lamanya.

Untuk Perempuan Pendampingmu




Teruntuk perempuan pendampingmu (( kelak )),
Saya hanya ingin bilang, bahwa kamu sungguh beruntung. Dan pada saat nanti, saya tak lagi bisa menahan diri untuk tidak merasa iri padamu. Bahkan untuk tatap matanya yang penuh kasih, tertuju hanya untukmu.
Semoga cinta akan tertaut di hatimu selamanya.

Jumat, 02 Januari 2015

Selamat Ulang Tahun

Bagaimana caramu menghabiskan hari ulang tahunmu?
Saya suka merayakannya dalam sepi. Meniup lilinku sendiri tepat ketika hari berganti. Menghitung tiap rizki yang diberi Tuhan tanpa gaduh; udara, cahaya, jantung yang berdetak, atau senyum yang merekah di bibir saya sendiri.
Saya akan berbaring menatap langit-langit, mengingat-ingat segala yang terjadi setahun kemarin; Berapa jauh saya berjalan? Berapa orang yang saya temui? Berapa banyak saya belajar? Kemudian tertawa geli setelahnya. Saya tidak pernah kemana-mana. Dan kemanapun melihat, bayangmu masih satu-satunya yang kutemui. Sejak kamu pergi, satu-satunya yang kupelajari hanya menanti dan menutup hati.
Bagaimana caramu menghabiskan hari ulang tahunmu?
Saya suka merayakannya dalam riuh. Dikelilingi manusia-manusia paling baik sejagad. Menerima tiap senyum dan cinta tercurah tak henti-henti. Bahkan di hari ini kamu bertukar salam dengan orang-orang yang biasanya tak bertukar kata-kata. Meniup lilin dan mendengar tiap doa dipanjatkan, tiap harap diamini. Sekalipun tiap doa harus diulang tiap tahun. Terima kasih untuk tidak lelah mengharapkan yang terbaik untuk saya.
Saya benci kejutan. Saya lebih sering tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi saya suka kado. Dan segala macam isinya. Saya suka cerita lucu dan tiap tawa yang berkelindan diantaranya. Dalam tiap jeda, saya bersyukur untuk tiap tawa, kado dan (bahkan) kejutan. Saya bersyukur telah dicintai terus menerus sepanjang hidup. Telah dikirimi Tuhan begitu banyak manusia baik yang menghujani saya sepanjang waktu dengan cinta. Meskipun satu-satunya cinta yang saya mau tidak pernah jadi milik saya, di sisa hidup.
Bagaimana caramu menghabiskan hari ulang tahunmu?
Saya suka merayakannya di detik-detik terakhir. Saat tiap selamat telah dibaca dan tiap tiap bingkisan telah terburai isinya. Tiap doa telah didengar dan tiap tawa menguap di udara. Sepi kembali,  kali ini dengan lara.
Ketika seribu selamat tidak berarti apa-apa dibanding satu darimu.Ketika sejuta senyuman tidak pernah sanggup mengalahkan milikmu.Ketika kamu tetap jauh berharga, bahkan tanpa lilin dan kejutan. Tanpa kado. Tanpa apa-apa.Ketika menunggu sesuatu yang tak pernah datang jadi begitu alami, bagiku.


Selamat Ulang Tahun.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Mungkin

Warna kulitku sengaja dibuat gelap seperti ini, karena jodohku menyukainya.
Bentuk wajahku bulat seperti ini, karena jodohku menyukainya.
Kekonyolanku tidak bisa hilang, karena jodohku pernah jatuh cinta karenanya.
Mungkin,
Warna bola mataku sengaja dibuat Tuhan seperti ini, karena jodohku senang memerhatikannya saat aku dengan begitu antusias jika bercerita.
Bibirku sengaja dibuat sedikit tebal, karena jodohku senang menciumnya.
Jerawat dan kulit wajahku yang tidak mulus ini, adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa jodohku menerimaku apa adanya.
Mungkin, mungkin, mungkin..
sedemikian tidak sempurnanya aku, memang dirancang Tuhan sedemikian rupa untuk memberi tahu bahwa ada jodohku yang lebih dulu diciptakannya untuk menyeimbangkan juga melengkapiku. Seutuhnya.


SELAMAT, MAAF, dan TERIMA KASIH

“Aku pernah menyukaimu secara sederhana, layaknya embun pagi yang merelakan butirannya hilang disapa matahari. Seperti aku yang tersenyum saat pertama namaku terasa hangat kau sebut.
Aku pernah menginginkanmu secara sederhana, layaknya buliran keringat ayah demi mewujudkan mimpi sepatu anak perempuannya. Seperti tanganku yang terangkat, jauh sebelum tangan kita menjabat; berdoa untuk sosok seperti kamu.”
“Hari yang aku takutkan adalah hari dimana kamu tak menginginkanku lagi
Hari yang aku takutkan adalah hari dimana kamu tak memedulikanku lagi
Hari yang aku takutkan adalah hari dimana kamu tidak takut kehilanganku lagi”

Hari ini, Sabtu 23 Agustus 2014 menjadi peristiwa besar bagi seseorang berinisial ‘A’ ( ciee.. inisial! ). Laki-laki bongsor itu akan memulai kehidupan baru dan berstatus sebagai ‘suami’.

SELAMAT! Selamat! Selamat! Selamat, man!

Tentang semua yang terjadi padamu, sungguh aku ikut bahagia. Tentang berita pertunangan, pun tatkala undangan pernikahanmu sampai di depan rumahku, bahagiaku benar-benar tak bisa ku bendung. Hehehehe. Mempersiapkan segalanya dengan sempurna harus aku lakukan, karena tampil sempurna di pesta pernikahanmu adalah tujuan.

But, hey, aku lupa, bahwa sejatinya sempurna hanya milik Yang Kuasa. Dia yang dengan sekejap mata bisa membuyarkan rencana menjadi semacam aral. Jadi seperti ini, H-7 pernikahanmu aku masih bahagia akan menyambutnya. H-4 pernikahanmu, aku memikirkan baju apa yang akan kukenakan dan kado apa yang harus kuberikan. Tapi, rencana memang hanya rencana. H-2 yang seharusnya aku hunting baju dan kado, H-2 yang seharusnya partner kondanganku bisa datang dan nemenin, semuanya gagal, nggak bisa. Rupanya rencana dan hatiku tak bisa berkompromi lagi. Dia seperti meronta, merintih, dan menangis ketika melihat sepucuk undangan yang bertengger di atas meja belajar. Fiuh, what’s up, girl?

=================/ /==================

Singkat cerita, laki-laki berinisial ‘A’ ini pernah menjadi orang yang amat special di hati saya. Ya Rabbi, it was almost 8 years he had been my first love. Dan rasanya saat itu aku nggak punya kuasa buat ngasih tau semua yang aku rasain. Jadi, kita berdua maen-maen bareng, di sekolah dan di rumah ketemu. Tiap sore sengaja jalan-jalan naik sepeda atau motor dan dengan sengaja lewat depan rumah dia, and he did it, too. Aku pikir, tanpa aku jujur tentang semuanya, dia udah tau. Jaman-jaman kuliah pun, kita masih maen bareng, sms’an sampe tangan keriting. Karena kita merantau di kota yang sama, jadi kadang dia maen ke rumah, jemput, trus jalan ntah kemana. Without telling him my feeling, I knew he knew. I didn’t even care bout his feeling.

Sebelumnya aku tahu bahwa semua ini akan terjadi. Bahwa aku akan diabaikan, bahwa aku akan ditinggalkan dan terlupakan. Jadi tanpa mengucap cinta atau pun janji, dia pergi ntah kemana dan kenapa. Untuk selalu positive thinking adalah sesuatu yang selalu aku upayakan. Dan yes pikirku dia mau konsentrasi sama sekolah biar cepet lulus lalu kerja. Tapi kabar dia udah punya pacar adalah kabar yang pertama kali aku dengar. Sakitnya tuh... #hmm

Hari demi hari, tahun demi tahun, akhirnya kita udah nggak berhubungan lagi. Sama sekali. Dia bahagia sama pacarnya, aku pun merangkai hari-hari penuh dengan keceriaan bersama pasanganku. Tapi melupakan tidak semudah seperti mengatakannya. Suatu ketika aku bertemu, berpapasan atau melihat sekilas si laki-laki berinisial ‘A’ ini, kadang-kadang jantungku masih aja dag-dig-dug nggak karuan. Entah. Padahal, aku sangat yakin seratus persen bahwa aku sudah tidak menyisihkan sedikit pun rasa sayangku buat dia. Sungguh.

Iya, terus ini kenapa?

Jantungku masih saja berdetak kencang saat sosoknya ada di sekitarku...


=================/ /==================


Aku berkata pada diriku sendiri bahwa kelak di resepsi pernikahannya aku harus menggandeng pacar sebagai partner kondangan. Biar nanti saat resepsi aku ada pegangan. Biar mataku nggak berkaca-kaca. Setidaknya, biar aku nggak melakukan hal-hal yang nggak diinginkan di tempat resepsi. Mecahin piring atau gelas, misalnya. Partner kondanganku adalah penguatku. Iya. Iyain aja.

Sebenernya aku bisa aja dateng sama Olis, salaman sama pengantin, ngasih selamat, makan-makan, dll. Ya Allah, tapi aku nggak bisa bayangin gimana ekspresi wajahku nanti. Gimana nanti Olis Celvi bakal ngejekin aku dari pulang resepsi sampai rumah, sampai besok besoknya lagi. Iya kalau misal aku bisa tegar, kalau nanti aku nangis di tempat resepsi gimana. Kalau air mataku jatuh sendiri gimana. Aku bayanginnya aja udah nggak kuat. Ya Allah semoga semua itu tidak terjadi, aamiin. L

Dan H-3 si pacar dengan entengnya dan tanpa rasa bersalah membatalkan rencana yang sudah aku minta dia untuk mengusahakan dari sebulan lalu. Rasanya campur aduk. Mataku berkaca-kaca lagi. Aku nggak tau... L

H-2 rencana dan hatiku jadi berantakan. Aku nggak bisa mikir lagi tentang baju ataupun kado. Aku mikirin siapa yang bisa jadi partner di resepsinya dia. H-1 resepsi bikin hati dan pikiran nggak karuan. Malam kemarin nggak bisa tidur, malam ini pun juga. Finally, aku menemukan beb Yuda, yang mau jadi partnerku di resepsi nanti. Alhamdulillah. J


                                 =================/ /==================


SELAMAT ya ndud, si laki-laki berinisial ‘A’! Akhirnya kamu menemukan paket lengkap dari Tuhan, untuk tumbuh, menua bersama... dan saling melengkapi selamanya. Sakinah mawaddah warahmah. Barakallah, aamiin.

MAAF ya beb Yud, kali ini bakal ngerepotin kamu. Oh okay, udah sering banget kita ngerepotin. But you will always be there #eeaaa. Aku nggak tau apa yang bakal terjadi di resepsi nanti. Segala kemungkinan baik dan buruk udah aku pikirkan (lebay). Aku mohon saat resepsi nanti, kakimu nggak pernah sedikitpun jauh dari bayanganku, beb. Nggak peduli apa kata orang, kamu harus tetep ada di sampingku saat resepsi. I think this is what people called ‘kerempongan dan keribetan perempuan’, sampai terkadang hal-hal yang belum tentu terjadi pun mereka khawatirkan. Maaf beb, untuk aku yang selalu lebay.J

TERIMA KASIH laki-laki berinisial ‘A’ karena sudah hadir dalam hidupku. Yang membuatku belajar bahwa semua yang terjadi tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bahwa mencintai seseorang bukan berarti juga harus memilikinya, dan aku akan selalu belajar untuk ikhlas dan mengikhlaskan.

TERIMA KASIH beb Yud, karena telah bersedia menjadi partner kondanganku untuk dua kali resepsi ini. Partnerku penguatku, uyeeee! Terima kasih karena selalu menolong dan selalu ada, beb.J
LET’S ROCK THE PARTY! \m/

Bismillahirrahmanirrahiim!





Kamis, 22 Mei 2014

Tetaplah Mencintaiku


Akankah kau tetap mencintaiku?

Jika suatu saat nanti aku tak lagi menggemaskan, akankah kau tetap mencintaiku?

Jika kelak kulitku lebih gelap dari sekarang, tubuhku lebih tambun, akankah kau tetap mencintaiku?

Jika nanti suara cerewetku mulai terlihat menyebalkan, akankah kau tetap mencintaiku?


Jika suatu saat nanti perhatianku tak lagi tertuju sepenuhnya padamu, akankah kau tetap mencintaiku?

Jika kelak rambutku semakin memutih, gerakanku semakin lambat, akankah kau tetpa mencintaiku?

Jika nanti sudah habis waktuku didunia ini untuk mendampingimu, akankah kau tetap mencintaiku?


***


“Hmmm, bukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab...”, katamu.





Jumat, 02 Mei 2014

I'M HAPPY. I'M BACK

Hello everybody!
What's up?

Hehehe, welcome to my blog :)


WELCOME BACK, LULUUUUUUU :D

Alhamdulillah, akhirnya blog aku kembali. Setelah berbulan-bulan dia tersesat dan tak tahu arah jalan pulang gegara aku lupa password dan dengan menyesal nggak bisa log in deh. *pukpuk
Bisa log in  lagi itu bahagia banget. Iya. Bahagia. Happy.
Aku itu orangnya gampang banget dibahagiain. Dikasih mendoan anget plus sambel aja udah bahagianyaaaaaaa minta peluuuk. Hehehehe.


Bahagia. Bahagia. Bahagia. Happy. Happy. Happy.
Gaes, kenapa sih kita harus bahagia? 
Duh, siapa sih yang nggak pengen bahagia. Semua orang pasti pengenn bahagia. Setiap detik, setiap hari.
"For every minute you are angry, you lose sixty seconds of happiness." - Ralph Waldo Emerson.

Tuh liat kata Opa Emerson, kita adalah orang yang merugi kalo kita nggak bahagia. Hahaha. Pokoknya bahagia itu harus dan wajib. Ndak perlu mahal dan muluk-muluk untuk mencapai bahagia. Cukup mulai dari sisi yang paling sederhana. Mensyukuri dan menikmati apa yang ada dan yang kita punya. So damn simple. 

Bahagia itu simple.

Sesimple saat kamu buka mata setelah bangun tidur dan menyadari kalo kamu masih diberi nafas dan kesehatan.

Sesimple saat kamu ngecek ATM, dan menemukan saldo kamu bertambah karna ada transferan dari gaji ngajar, bonus bulanan Oriflame, dan dari customer secara bersamaan.

Sesimple saat kamu buka kulkas, dan nemuin ada sekotak es krim vanilla kesukaan kamu didalamnya.

Sesimple saat melihat senyuman Ibu yang merekah ketika menyambut anaknya pulang kerumah.

Sesimple perasaanku saat kamu menempatkan tanganku dalam tanganmu.

Sesimple aku menemukan kembali password blog ini and finally bisa nge-blog lagiiii.

Sesimple ketika kita mengucap Alhamdulillah...

Iya. Bahagia sesimple itu.


Wiiih, still..

"WELCOME BACK LULU"
"HAVE A BLAST DAY ALL"
"Jangan Lupa Bahagia"


-Lulu-
#salamselfie




Minggu, 04 Agustus 2013

Crush On Him


“Just because it didn’t last forever, doesn’t mean it wasn’t worth it!”
This is the story about a girl who had crush on a guy.
They stayed in Alfalfa, Pare, Kediri, East Java.
She saw him for the first time in the Public Speaking Class two weeks ago. It was raining, and the weather was so gloomy. Her days had been blue. When she first noticed his existence among those people, she thought, “Who is that??”
…and that how she began to spend her days with all of hope seeing him in her afternoon class.
She always met him in afternoon class. It was kinda fun class when she could enjoy the class and watch him at the same time. That is why afternoon class became her favorite one, beside big class and public speaking class.
She got her first conversation class on Saturday. She wished she could get him as her partner to talk in every conversation class, but… it was just a hope…
There’s one thing about him that has attracted her the most. His hair. His nice thin, and straight black hair. She would imagine running her fingers through his clean-cut hair, burry her fingers deep and gently pull the hair.
They talked once, just at introduction class. He’s an ice block. Because she’s too shy, she never has ability to break the ice.
Then, on sunny Thursday morning, she heard that he would come back home. She did anything to get his phone number and asked him to meet up. And finally….
Thursday, 17.50, at the food stall.
She said, “I wanna say something to you…”
He turned to her and said, “What do you wanna talk?”
She started to talk, “So listen, this your last day in Pare and after this you will come back home. You will not be here anymore. Before you leave, I just want to tell you something. You don’t’t have to say or do anything, or even react. Just listen. Okay?”
“Okay”
She took a deep breath and said, “I have been really attracted to you…”
She looked relax, but she actually couldn’t even look at his eyes.
She said, “I think… you have nice hair. Nice thin and straight black hair..”
He looked at her very surprised and said, “Oo really? How come?”
“Yeah because from the first time I saw you in Public Speaking Class two weeks ago. You looked so different, and I really liked your hair.”
He smiled. For about two seconds, they looked at each other in silence. Both of them seemed pretty surprised.
She breathed out. “There. I said it!”
“Anyway, when will you come back home?”, he asked.
“It will be on 31st July then I’ll go back…”
“Hmm…”
“Thank you for listening.” She smiled at him. She felt fine.
He said, “Emm no. I thank you… Emm well, I gotta go now. Someone will take me to the station.”
“Ooh ya.. Sure. Pretty much thank you. Nice to meet you,”
“My pleasure. Enjoy your break fasting anyway. Nice too meet you too…”
She walked very fast into the food stall, didn’t even dare to look back. She smiled and said to herself, “This is the proudest thing of my life.”
She had a crush on this guy.
She told him about it.
She doesn’t expect anything from him.
She doesn’t even care.
But that was just relieving.
She doesn’t have anything to lose.
But she just really enjoys herself being honest.

Selasa, 04 September 2012

Anak dan Istri Munir (juga kita) Masih Menunggu Keadilan


Selasa, 04 September 2012 | 08:00
Penulis: Ulin Yusron

Istri almarhum Munir, Suciwati dan Diva Suukyi (10 tahun) mengikuti aksi Kamisan ke 271 sekaligus memperingati hari penghilangan paksa di depan Istana Negara, Kamis (30/08/2012) 

Suciwati, Alif Allende dan Diva Suukyi masih menanti keadilan atas pembunuhan aktivis HAM Munir.
Gadis kecil itu berlari kecil ke penjual minuman. Sore itu meski tak terlalu terik, gadis kecil ini ingin membeli minuman segar untuk melepas dahaga. Mengenakan kaos dan celana warna biru, ia berada di antara puluhan orang yang sedang menggelar Aksi Kamisan yang ke-271 di depan Istana Negara, (Kamis, 30/08/2012).
Wajahnya mirip sekali dengan almarhum Munir, penegak hak azasi manusia yang dibunuh di atas pesawat. Wajahnya manis, berkulit sawo matang. Parasnya mirip sekali dengan Munir. Dialah anak kandung pasangan Munir - Suciwati. Nama lengkapnya Diva Suukyi. Saat peristiwa kelam yang mengubah seluruh kehidupan keluarga itu, Diva Suukyi baru berusia dua tahun dan kakak sulungnya, Alif Allende baru berusia enam tahun. 
Hingga delapan tahun tahun sesudah peristiwa yang menggemparkan itu, siapa sesungguhnya pembunuh Munir tak diketahui dengan jelas. Diva kini duduk di kelas 5 SD di Malang, sedangkan Alif kini berusia 14 tahun dan telah duduk di bangku SMP.  
Siang terik pukul 14.00 tanggal 07 September 2004, berita terbunuhnya Munir itu diterima Suciwati dari ujung telepon. Usman Hamid, yang waktu itu Koordinator Kontras (Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mengabarkan ihwal kabar meninggalnya Munir. 
“Kenapa Abah dibunuh, Bu?” Mulut-mulut mungil itu seakan bertanya pada Suci. Sementara Diva Suukyi, menatap penuh harap. Saat Suci menangis sejadi-jadinya, Diva kecil memeluk Suci. Tangan kecilnya melingkari tubuh Suci. ”Ibu jangan menangis. Jangan sedih,” kata-kata itu seperti diucapkan Diva di telinga Suci. 
Delapan tahun lalu Suci dan dua orang anaknya dipaksa kehilangan suami dan ayah mereka. Pembunuhan Munir menjadi skandal besar pemerintahan waktu itu. 
Suci dan kedua anak Munir tak bisa menerima kenyataan, ayah dan suaminya, mati dengan cara tidak wajar. Sudah bertahun-tahunmereka menuntut keadilan. Namun yang didapat adalah ketidakpastian. Waktu terus berjalan sementara dalang dan pembunuh sesungguh masih berkeliaran di sekitar kita.  Pengadilan hanya bisa menghukum Pollycarpus Budi Priyanto, pilot Garuda yang menuangkan arsenik ke minuman Munir di Bandara Changi Singapura, telah dihukum 14 tahun penjara.
Tapi Suci tak percaya Polly bekerja sendirian. Polly adalah mata rantai dari persekongkolan jahat penguasa yang ingin melenyapkan Munir. Sidang kasasi MA hanya bisa menjerat Pollycarpus. Tak ada tersangka lain! Muchdi Pr yang kala peristiwa itu terjadi menjabat sebagai Deputi Badan Intelijen Negara, yang sempat ditangkap dan didakwa menjadi otak pembunuhan Munir, telah dibebaskan oleh Mahkamah Agung pada tanggal 31 Desember 2008.
Tembok keadilan terakhir hanyalah melalui jalur Peninjauan Kembali. Sayang, hingga kini Kejaksaan Agung belum mengajukan PK. 
Suci gusar. Demikian pula anak-anaknya. Diva saja yang masih anak-anak meragukan kalau cuma Polly yang menjadi pelaku peristiwa kejam itu. "Yang membunuh Abah yang aku tahu cuma Polycarpus, enggak tahu yang lainnya," kata Diva yang matanya menerawang ke atas. Senyum kecut ia lempar ke Ibunya, Suciwati yang berdiri di sebelahnya.
"Sampai sekarang jaksa agung belum mengajukan PK. Terakhir kita ketemu Mei. Mereka bilang mau ajukan novum tapi sampai sekarang belum. Padahal menurut kita novum itu sudah ada," ujar Suci kepada Beritasatu.com. 
Ada dua novum (bukti baru) yang sudah disampaikan oleh Kasum (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir). Pertama, Muchdi Pr memiliki alibi bahwa tuduhan ia menghubungi Polly melalui telepon tidak benar. Sebab saat itu dia ada di Malaysia. "Dia tunjukkan paspor. Dia bilang katanya ditugaskan ke Malaysia oleh BIN. Tapi ketika ketika kita melakukan gugatan melalui komisi informasi, pihak BIN menyatakan tidak pernah menugaskan ke Malaysia," terang Suci. Ada surat pengakuan dari Badan Intelijen Negara bahwa dari tanggal 6 sampai 12 September 2004 tidak ada surat penugasan Muchdi PR ke Malaysia. Kedua, adanya rekaman percakapan antara Muchdi PR dan Polycarpus.
Suci heran, bukankah kedua fakta itu bisa jadi novum. Sayang kejaksaan agung tak bergerak. Wakil Jaksa Agung  Darmono yang dihubungi melalui layanan pesan singkat, hingga Senin petang belum menanggapi masalah kelanjutan permohonan PK atas kasus pembunuhan Munir tersebut. Pada 14 Mei 2012, Darmono pernah menyatakan soal kemungkinan mengajukan PK itu tetap ada, namun dibicarakan terlebih dahulu melalui tim yang ada.
Bersandar Pada Kampanye #MelawanLupa
Dalam situasi seperti ini, Suci dan anak-anaknya tak berhenti merawat harapan dan optimisme. Suci pun tak berhenti menghubungi pihak kejaksaan agung untuk menanyakan kapan dilakukan Peninjauan Kembali. "Kita harus terus mendorong dan menanyakan ke pihak terkait. Saya sering telepon kejaksaan mengapa tidak segera dilakukan PK," ujar Suci.

Jalan lain yang dilakukan Suci adalah bergabung dalam kampanye melawan lupa. Kampanye melawan lupa, supaya kasus Munir segera dituntaskan. Juga kasus lain harus didorong untuk diselesaikan," kata Suci.

Kemajuan dalam kasus Munir memang belum ada sama sekali. Tapi sedikitnya, menurut Suci, makin banyaknya gerakan pemuda untuk meminta kasus itu dituntaskan adalah hal yang menggembirakan.  "Semakin banyak yang ikut kampanye melawan lupa. Ke depan mereka harus lenbih kritis untuk memilih pemimpin bangsa yang tidak punya sejarah kelam, berani melawan impunitas, berani memenjarakan atasan yang melanggar HAM. Anak muda harus memilih pemimpin yang tidak busuk," ujar Suci menaruh harapan pada pemuda.

Anak muda, kata Suciwati, harus terus diajak kampanye. "Kita bangsa pelupa. makanya ada kamisan sebagai cara melawan lupa bahwa ada persoalan bangsa yang belum diselesaikan, selalu ditumpuk hanya jadi filling. Sementara kita pernah terluka, luka itu belum terobati," ujar Suci.

Munir telah mewariskan kepada generasi muda saat ini yaitu melawan ketakutan. "Cak Munir memberi inspirasi untuk mendobrak ketakutan. Militer yang berkuasa dan menghegomini didobrak. Anak muda harus lebih berani mendobrak dan meneruskan apa yang dilakukan Cak Munir," kata Suci.

Sudah delapan tahun racun arsenik itu mematikan pejuang hak azasi manusia. Selama delapan tahun, gadis kecil Diva yang pintar berbahasa Inggris itu kehilangan ayah tercintanya. Ia tak pernah merasakan langsung pendidikan keberanian, seperti halnya Munir ajarkan kepada seluruh aktivis buruh, aktivis HAM dan kemanusiaan. 

Diva hanya menaruh harapan. Dalam keheningan setiap sholat lima waktu, Diva tak hentinya berdoa. "Abah sudah ada di kuburan, di alam kubur. Abah sudah meninggal. Semoga Abah masuk surga, diterima di sisi Allah dan diberi nikmat yang banyak," kata Diva dengan suara mantap.

Keadilan masih dinantikan. Agar Diva bisa bercerita kepada teman-teman sekolahnya siapa sesungguhnya pembunuh Abahnya. Suci, Alif dan Diva tak henti mengetuk pintu keadilan. Semoga didengar penjaga rumah keadilan.


:(
Munir... 
Munir Said Thalib... Akhirnya aku bisa lebih dalam mengenalmu. Akhirnya aku tau, seberapa besar perjuanganmu melawan ketakutan, ketidakadilan, untuk mewujudkan kebenaran...

Munir, membaca semua tentangmu saja bisa membuat mataku berair. Membaca sepucuk surat dari Goenawan Mohamad membuat dadaku sesak. Membaca semua yang selama ini orang-orang lakukan untukmu, membuat hatiku tersentuh. Ternyata kau begitu hebat Munir...

Bangsa tidak akan pernah lupa apa-apa yang telah kau lakukan untuk mereka. Terlebih mereka yang merasakan ketakutan dan ketidakadilan. Semoga pembunuh-pembunuhmu bisa cepat ditangkap, semua kejahatan mereka terungkap dan dihukum pancung. Kalo nggak bisa, biar aku aja yang kasih racun.

Tak akan ada lagi ketakutan, hanya ada mimpi perdamaian, hanya ada tentang kebenaran - (Masihkah Kita Takut - Amir S)


With ♥,
-lulu-



Senin, 02 Januari 2012

Mungkin

Warna kulitku sengaja dibuat gelap seperti ini, karena jodohku menyukainya.
Bentuk wajahku bulat seperti ini, karena jodohku menyukainya.
Kekonyolanku tidak bisa hilang, karena jodohku pernah jatuh cinta karenanya.
Mungkin,
Warna bola mataku sengaja dibuat Tuhan seperti ini, karena jodohku senang memerhatikannya saat aku dengan begitu antusias jika bercerita.
Bibirku sengaja dibuat sedikit tebal, karena jodohku senang menciumnya.
Jerawat dan kulit wajahku yang tidak mulus ini, adalah cara Tuhan menunjukkan bahwa jodohku menerimaku apa adanya.
Mungkin, mungkin, mungkin..
sedemikian tidak sempurnanya aku, memang dirancang Tuhan sedemikian rupa untuk memberi tahu bahwa ada jodohku yang lebih dulu diciptakannya untuk menyeimbangkan juga melengkapiku. Seutuhnya.
Sincerely,